Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

'' Sahabat Sesungguhnya ''

-->
Hidupku terlahir dengan kekayaan berlimpah, istriku cantik dan sejak kecil aku terbiasa dimanjakan sebagai anak orang kaya. Aku bersekolah di Australia saat lulus SMA dari Jakarta, menjadi orang kaya tidak membuatku dapat memiliki sahabat karena sifatku yang pendiam terle
bih kata ibu sejak kecil aku mempunyai jantung yang lemah. Tidak heran mereka selalu mencemaskan keadaanku yang tidak pernah aku pikirkan.
Aku duduk di halaman belakang rumah yang menghadap Laut Jawa. Istriku Rahma sedang membuat segelas teh hangat, tanpa sengaja aku melihat sebuah buku catatan pribadi milik istriku. Aku membuka lembaran buku itu dan terselip sebuah foto antara aku, istriku, seseorang mungkin aku kenal.
Rupanya, ini adalah foto kami saat di Australia. Saat itu aku, istriku, dan dia berfoto bersama saat sedang berdiskusi. Aku mencoba mengingat siapa dia dan ada hubungan apa antara aku, istriku, dan dia. Istriku datang sembari meletakkan segelas teh di meja.
“Mengapa foto ini ada disini sayang?” Tanyaku
Istriku terkejut, mungkin ia takut gambar itu akan mengingatkanku tentang masa lalu.
“Maaf, aku tidak sengaja menemukan bukumu dan ketika aku membukanya terdapat sebuah foto kita dan dia. Siapa dia, sayang?”
Aku terdiam dan istriku seperti salah tingkah. Belum selesai dia berucap suara telepon tiba-tiba berdering dan istriku meminta izin untuk mengangkatnya.

Istriku kembali, dan melanjutkan perkataanya.

“Sayang, apa yang kamu pikirkan tentang foto itu?”
“Tidak ada, selain siapa pria dalam foto ini yang berfoto bersama kita.”
Istriku menunduk sembari berkata “Dia adalah kamu.”
Aku semakin bingung. “Maksudmu apa?”
“Ray adalah kamu, dia tinggal disini. Tepatnya di jantung yang kamu miliki.”

Apa maksudnya? Siapa Ray itu? Mengapa Ray tinggal di jantungku? Pertanyaan itu berputar terus menerus dalam pikiranku. Tiba-tiba jantungku terasa begitu sakit, semua terasa gelap dan aku tak bisa mengingat apapun.
Benturan saat kecelakaan itu membuat aku harus kehilangan memori otakku. Aku tak bisa mengingat apapun tentang masa lalu

“Di mana aku, sayang?” Tanyaku saat membuka mata.
“Kamu pingsan, sekarang di Rumah Sakit. Istirahatlah sayang.”
“Sayang, siapa dia yang ada dalam foto ini?” Tanyaku

             Ia hanya terdiam. Istriku mencoba mengingat kejadian itu. Istriku menangis sambil bercerita di saat-saat terakhir usai kecelakaan terjadi. Orang yang membawaku ke rumah sakit adalah Ray, Dokter mengatakan bahwa jantungku sudah tidak berfungsi. Aku hanya memiliki waktu sedikit untuk tetap hidup dan dokter menyarankan Ray mencari donor jantung. Istriku Rahma begitu terkejut dengan berita kecelakaan itu, ia menangis di samping Ray.
Tidak mungkin mencari jantung yang tepat saat kondisi kritis seperti ini.
“Ray, sebentar lagi Adit (namaku) akan menjadi seorang ayah. Aku tidak akan sanggup bila harus membesarkan anakku tanpa kehadiran seorang ayah disamping anakku.” Ujar Rahma
Ray hanya tersenyum dan berkata dengan tenang.
“Tenanglah Rahma, kamu tidak akan kehilangan Adit. Aku berjanji itu.”
Tanpa sepengetahuan istriku, Ray menemui dokter. Ray meminta dokter untuk mendonorkan jantugnya pada Adit. Mendengar keinginan Ray, terang saja dokter menolak dengan keras,  karena tidak ada hukum yang mengizinkan orang sehat untuk berbuat demikian.
Sesaat sebelum kematiannya  Ray menelepon Dokter dan mengatakan bahwa seseorang donor yang bersedia menyumbangkan jantungnya. Doker sangat senang karena akhirnya aku mendapatkan donor jantung, dan dokter bertanya “Siapa orang itu?” dengan tersenyum dibalik telepon Ray berkata “ Saya menunggu anda di belakang rumah sakit, jantung ini hanya bisa bertahan selama beberapa saat, saya mohon dokter kemarilah dalam waktu 10 menit.” Dengan berani, Ray menabrakkan diri pada sebuah truk yang lewat malam itu. Ray mengorbankan dri sebagai pendonor dalam keadaan sekarat.
Usai operasi, istriku mencari sosok Ray. Yang istriku temukan justru sepucuk surat berasal dari Ray.
To : Adit
Gimana operasi loe dit?
Moga loe cepet sembuh bray
Gua disini udah tenang
Gua udah punya kehidupan baru
Ya .. bisa dikatakan, hidup abadi gua
Gua seneng bisa kenal sama loe
Gua juga seneng bisa jadi temen deket loe
Gausah loe pikirin kata-kata mereka yang bilang kalo loe itu Gay
Gua yakin, kalo loe itu orang baik dan loe gak akan mungkin terpengaruh sama mereka
Maafin gua .. kalo setelah loe sembuh gua gak bisa nemenin loe lagi
Goood bye..
Sesaat setelah istriku membaca surat ini, dokter meneleponnya dan memberitahukan bahwa yang menjadi pendonor untukku adalah Ray sahabatku sendiri.
Mendengar penuturan dari istriku, kini aku tahu bahwa Ray bukan hanya menolong hidupku satu kali tapi dua kali, bukanlah dia yang seharusnya meminta maaf tapi akulah yang meminta maaf tidak pernah mengerti bertapa dia adalah sahabat sejati dalam hidupku, aku terlalu egois mengatakan bahwa dia gay dan dia adalah petaka dalam hidupku. Aku hanya bisa mengenang foto itu, Ray adalah sahabat pertama yang menjadi temanku saat aku nyaris mati karena kedinginan terserang hujan deras, ia bukan laki-laki beruntung seperti hidupku. Bahkan untuk menyambung hidupnya ia harus bekerja sebagai pelayan restoran, aku berterima kasih padanya karena berkatnya aku masih bisa hidup sampai detik ini.
Berkatnya juga aku bisa mengenal istri yang kucintai saat ini, persahabatan kami baik-baik saja hingga sebuah tragedi terjadi dalam hidup kami. Aku ingat, suatu ketika semua orang mempergunjing aku di kampus dan mengatakan aku seorang gay karena terlalu dekat dengan Ray. Terang saja aku marah, kami normal dan dekat karena dialah satu-satunya sahabatku di Australia dan aku bahkan rela menghajar orang-orang yag menjelek-jelekkan sahabatku itu.
Tapi hidup memang pahit, di mataku sendiri Ray berciuman dengan pasangan gay-nya. Aku hancur dan malu memiliki sahabat seperti dia, ada yang aneh ketika melihatnya berbuat demikian. Sidney memang kota bebas bagi gay, tapi tidak buat aku. Aku melupakan semua kebaikan Ray. Aku tahu bahwa Ray memrgokiku saat sedang melihatnya. Dan ia mencoba mejelaskan semua padaku. Namun apa yang aku lakukan, aku justru menghinanya dan merasa jijik setelah aku tahu bahwa yang hidup bersamaku selama ini adalah seorang monster. Ia panik, dan meminta maaf karena ia tidak pernah jujur dengan statusnya.Dan kalimat terakhir yang ku dengar dari mulutnya hanya :
“Aku mungkin gay, tapi aku bukan monster yang selama ini hidup bersamamu. Bagiku, siapa saja boleh mengatakan aku manusia hina tapi janganlah sahabatku, karena hanya kaulah sahabat satu-satunya yang aku miliki.”
Sejak saat itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Dan kami bertemu kembali saat aku dan istriku berbulan madu di Bali 3 tahun lalu. Aku sadar ini saat terakhir aku berjumpa dengannya, karena aku akan kembali ke Jakarta. Aku pun mengundangnya minum kopi bersama sebagai sahabat lama walaupun di hatiku tidak pernah mau memaafkan statusnya sebagai gay. Kami bicara seadanya tentang hidup kami , dia mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Setelah kami berpisah, aku tidak dapat mengingat semuanya selain sebuah mobil menabrakku hingga aku koma selama 3 bulan.
Aku tidak akan pernah melupakan hal ini, walaupun hidupku berjalan dengan waktu. Anakku terlahir beberapa bulan kemudian dan untuk mengenang sahabatku, keberikan nama Ray padanya.
Gay, lesbi, pria buta, wanita bisu mereka adalah manusia yang memiliki hati untuk mencintai dan kasih dalam persahabatan. Setidaknya kita menyadari saat ini sebelum terlambat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar